Senin, 11 Januari 2010

| | 0 komentar

Jenny Humprey







Ga percaya kalo dia masih 16 tahun. She's so young, but look her style.
Read more...

Minggu, 10 Januari 2010

Dampak Krisis Global pada Perbankan

| | 0 komentar

Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurangi impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.
Seperti pada tahun 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.
Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun, yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Perbankan adalah jantung di dalam tubuh satu perekonomian. Fungsi vital perbankan, yaitu intermediasi, memiliki peran yang sama strategisnya sebagaimana jantung memompa dan mendistribusikan uang, yang merupakan darah bagi perekonomian, ke berbagai sektor yang ada (atau organ-organ lain dalam tubuh).
Hal ini yang mendasari mengapa perbankan merupakan sektor yang sangat diregulasi dan di”anak-emas”kan. Berbagai aspek yang menyangkut prinsip keberhati-hatian (prudential regulation) dan manajemen resiko (risk management) dari suatu bank kerap diatur oleh negara. Hal ini mengingat tidak berfungsinya sistem perbankan akan turut menyeret seluruh perekonomian ke kelumpuhan.
Untuk alasan ini, krisis global yang menyebabkan ambruknya beberapa institusi besar keuangan dunia tentu menyebarkan rasa was-was bagi para pengambil kebijakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Krisis merupakan ujian sampai sejauh mana ketahan perbankan domestik.
Untungnya, hingga saat ini, perbankan domestik masih mampu menunjukkan kuatnya daya tahan yang dimiliki. Berbeda dengan krisis 1997/1998, perbankan nasional tidak serta merta menjadi subyek penyebab kelumpuhan ditengah krisis, akan tetapi sebaliknya justru menjadi tumpuan untuk pemulihan dan pertumbuhan yang lebih dinamis ke depan.
Demikian pula, kinerja perbankan nasional sepanjang 2008 yang diukur dari beberapa indikator fundamental menunjukkan prestasi yang menggembirakan. Hal ini terlihat dari peningkatan dana masyarakat yang berhasil dihimpun (DPK) dan jumlah kredit yang diberikan serta proporsi LDR (Loans to deposit ratio) yang terus meningkat sepanjang tahun. Begitu juga, kinerja perbankan yang membaik juga dapat terlihat dari kinerja NII (Net Interest Income) atau pendapatan bunga yang meningkat, serta menurunnya kinerja kredit macet (NPL-Non Performing Loan) yang seharusnya sangat rentan terjadi di saat resesi seperti ini.
Secara ringkas, gambaran ini mencerminkan daya tahan perbankan domestik yang cukup kuat. Namun, rembetan krisis global dan ke mungkinan instabilitas ekonomi masih terus berlangsung. Yang menjadi satu ancaman akut bagi kinerja perbankan. Sehingga, prinsip kehatihatian dan strategi yang tepat untuk mampu survive perlu terus diterapkan oleh setiap pengelola bank dan bank sentral dalam fungsi pengawasan, untuk menghindari institusi keuangan terjerambab dalam jurang kebankrutan.
Dalam hal ini, satu hal spesifik dimana perbankan tanah air harus meningkatkan kewaspadaannya adalah tingginya share kredit perbankan yang berada di sekitor industri (20,7 persen) dan perdagangan (19,9 persen) ––dua sektor yang sedang mengalami ujian berat akibat krisis global yang berkepanjangan. Tingginya pangsa kredit di dua sektor tersebut tentu sangat merisaukan kinerja perbankan, ditengah-tengah menurunnya pendapatan nasional dan kinerja ekspor. Sehingga, jika kinerja industri domestik mengalami penurunan dalam beberapa bulan ke depan, maka bisa dipastikan sektor perbankan akan meng alami penurunan profit dan peningkatan NPL.
Sementara hal lainnya adalah segmentasi pasar perbankan, yang saat ini sudah tampak terjadi dan bila terus berlanjut akan beramifikasi pada ketatnya likuiditas. Hal ini pada gilirannya akan menekan suku bunga komersial untuk tetap tinggi, yang akan berimbas negatif pada pengucuran kredit pada sektor riil.
Sementara, dalam konteks yang lebih fundamental ada dua hal lain yang juga harus diwaspadai oleh sektor perbankan. Hal tersebut adalah: Pertama, kewaspadaan dalam memaknai kemajuan teknologi dalam operasionalisasi perbankan; dan Kedua, kewaspadaan dalam merespon globalisasi keuangan.
Peningkatan dua kewaspadaan tersebut harus menjadi prioritas regulasi BI karena pada akhirnya, kewaspadaan tersebut akan mempertegas fungsi vital sektor perbankan “fungsi intermediasi”. Di sisi lain, lenturnya kewaspadaan terhadap dua hal tersebut akan semakin menggerus fungsi intermediasi seiring meningkatnya euphoria tingginya kredit konsumsi dan tingginya investasi dalam instrumen pasar keuangan.
Read more...

Kamis, 07 Januari 2010

Hambatan Koperasi

| | 0 komentar

Banyaknya masalah yang menghambat perkembangan koperasi di Indonesia menjadi problematik yang secara umum masih dihadapi. Pencapaian misi mulia koperasi pada umumnya masih jauh dan idealisme semula. Koperasi yang seharusnya mempunyai amanah luhur, yaitu membantu pemerintah untuk mewujudkan keadilan ekonomi dan sosial, belum dapat menjalani peranannya secara maksimal. Membangun koperasi menuju kepada peranan dan kedudukannya yang diharapkan merupakan hai yang sangat sulit, walau bukan merupakan hal yang tidak mungkin.

Pengelolaan koperasi yang kurang efektif dan efisien, baik dari segi organisasi, manajemen, maupun keuangan, menjadi salah satu kendala berkembangnya koperasi. Hal itu disebabkan masih rendahnya tingkat kemampuan dan profesionalisme sumber daya manusia yang terlibat di lembaga ekonomi tersebut.

1.Sumber Daya Manusia (SDM)
Banyak kenyataan yang mengungkapkan bahwa SDM yang ikut terlibat didalamnya baik sebagai anggota, pengurus, maupun pengelola koperasi kurang bisa mendukung jalannya koperasi. Dengan kondisi seperti ini maka koperasi berjalan dengan tidak professional dalam artian tidak dijalankan sesuai dengan kaidah sebagaimana usaha lainnya

Dari sisi keanggotaan, seringkali pendirian koperasi itu didasarkan pada dorongan yang dipaksakan oleh pemerintah. Akibatnya pendirian koperasi didasarkan bukan dari bawah melainkan dari atas sehingga pelaksanaan koperasi juga tidak sepenuh hati.

Pengelola yang ditunjuk oleh pengurus seringkali diambil dari kalangan yang kurang professional. Seringkali pengelola yang diambil bukan dari yang berpengalaman baik dari sisi akademis maupun penerapan dalam wirausaha melainkan dari orang – orang yang kurang bahkan tidak mempunyai pekerjaan

Pengurus yang dipilih dalam Rapat Anggota (RA) sering kali dipilih berdasarkan status social dalam masyarakat itu sendiri. Dengan demikian pengelolaan koperasi dijalankan dengan kurang adanya control yang ketat dari para anggotanya.

2. Keuangan
Kurang berkembangnya koperasi juga berkaitan sekali dengan kondisi keuangan badan usaha tersebut. Sering kali kendala modal yang dimiiki menjadi perkembangan koperasi terhambat. Kendala modal itu bisa jadi karena kurang adanya dukungan modal yang kuat dari dalam atau bahkan sebalikna terlalu tergantungnya modal dari sumber koperasi itu sendiri.

Sebaliknya ketika terlalu menggatungkan modal dari luar sering kali biaya yang menjadi beban kegiatan koperasi itu menjadi lebih besar dari tingkat pengendalian sehingga dari segi keuangan malah semakin memberatkan.

3.Rendahnya Etos Kerja Personal Koperasi
Rendahnya etos kerja ini selain berkaitan dengan rendahnya kualitas SDM juga bisa di sebabkan karena kurang adanya rangsangan untuk meningkatkan gairah kerja para personel yang terlibat dalam kegiatan koperasi sendiri. Secara organisasi anggota koperasi hanya punya andil dalam pengumpulan modal baik itu dari simpanan pokok, simpanan wajib atau simpanan lainnya.

Sisa Hasil Usaha (SHU) diperoleh dari laba bersih yang dihasilkan dari kegiatan koperasi. SHU ini selanjutnya akan dipotong dana cadangan yang telah ditetapkan dalam rapat anggota untk kepentingan ekspansi kegiatan usaha koperasi. SHU yang telah di kurangi tadi selanjutnya kan dibagikan kepada para anggota berdasarkan modal yang disetorkan.

4.Kurang Bisa Mengoptimalkan Penggunaan Teknologi Informasi (TI)
Karena kita memasuki era globalisasi maka sewajarnya untuk mengoptimalkan penggunaan Teknologi. Sebab tidak menutup kemungkinan yang akan bersaing di Indonesia adalah perusahaan – perusahaan besar yang dihasilkan dengan UMKM. Sedangkan UMKM Di Indonesia seringkali menggunakan teknologi turun menurun yang tidak berkembang sehingga penting sekali untuk memanfaatkan TI baik untuk kepentingan pengembangan produk maupun pemasarannya.

Minimnya penguasaan teknologi yang berpengaruh terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha, sehingga kurang memiliki daya saing akibatnya menjadi kendala bagi koperasi.

Penyebab lain, tingkat kesadaran anggota akan hak dan kewajiban masih tampak rendah, akibatnya dukungan terhadap perkembangan koperasi juga menjadi tidak optimal. Belum lagi kurangnya kesadaran, pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap badan usaha koperasi sehingga kepercayaan, partisipasi dan dukungan mereka dalam membangun koperasi tercermin masih rendah.

Kita sebagai masyarakat Indonesia harus terus berusaha melakukan hal-hal yang dapat menciptakan dan mengembangkan iklim dunia usaha yang kondusif, bersih dan transparan yang memungkinkan keikutsertaan yang seluas-luasnya bagi pengusaha Indonesia sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam pembangunan nasional dalam tatanan ekonomi pasar dalam percaturan perekonomian global karena pengusaha Indonesia yang tangguh akan menciptakan perekonomian Indonesia yang tangguh pula.
Read more...

Minggu, 20 Desember 2009

| | 0 komentar





I Love heR style..
Read more...
| | 0 komentar



AVATAR
membawa kita ke dunia yang spektakuler di luar imajinasi, di mana seorang pahlawan enggan embarks pada epik petualangan, akhirnya berjuang untuk menyelamatkan dunia asing ia telah belajar menelepon ke rumah. James Cameron, pemenang Oscar direktur "Titanic," dikandung film pertama 15 tahun lalu, ketika sarana untuk merealisasikan visi itu belum ada.Sekarang, setelah empat tahun produksi, AVATAR, sebuah live-action film dengan generasi baru efek khusus, memberikan sebuah pengalaman sinematik yang mendalam sepenuhnya dari jenis baru, di mana teknologi revolusioner yang diciptakan untuk membuat film menghilang ke emosi karakter dan sapuan cerita.

Kita memasuki dunia asing melalui mata Jake Sully, seorang mantan Marinir di atas kursi roda. Tapi meskipun tubuh patah-patah, Jake masih seorang pejuang di hati. Dia direkrut untuk perjalanan tahun cahaya ke pos terdepan manusia pada Pandora, di mana korporasi pertambangan mineral langka yang merupakan kunci untuk memecahkan krisis energi Bumi. Karena suasana Pandora adalah beracun, mereka telah menciptakan Program Avatar, di mana manusia "driver" memiliki kesadaran mereka terhubung dengan Penanya, yang jauh-dikontrol tubuh biologis yang dapat bertahan hidup di udara mematikan. Avatar ini direkayasa secara genetik hibrida campuran DNA manusia dengan DNA dari penduduk asli Pandora yang Na'vi.

Dilahirkan kembali dalam bentuk avatar, Jake dapat berjalan lagi. Dia diberi misi untuk menyusup ke Na'vi, yang telah menjadi suatu hambatan yang besar pertambangan bijih yang berharga. Tapi Na'vi perempuan yang indah, Neytiri, Jake menyelamatkan kehidupan, dan ini mengubah segalanya. Jake diambil oleh klan-nya, dan belajar untuk menjadi salah satu dari mereka, yang melibatkan banyak tes dan petualangan. Sebagai Jake hubungan dengan guru enggan memperdalam Neytiri, ia belajar untuk menghormati cara Na'vi dan akhirnya mengambil tempatnya di antara mereka. Segera ia akan menghadapi ujian terakhir saat dia memimpin mereka dalam sebuah epik pertempuran yang akan memutuskan tidak kurang dari nasib seluruh dunia.
Read more...

Sabtu, 19 Desember 2009

PERMASALAHAN KOPERASI DI INDONESIA SAAT INI

| | 0 komentar

Pada saat ini koperasi banyak mempunyai permasalahan yang di hadapi pada perkembangannya. Seperti kurangnya daya saing yang dimiliki oleh koperasi melawan badan usaha yang lain, selain itu kurangnya minat masyarakat untuk bergabung kedalam koperasi terutama masyarakat perkotaan.
Sebagai lembaga ekonomi, koperasi memiliki banyak keunggulan. Namun selama ini, keunggulan koperasi belum dapat dirasakan atau dilihat oleh masyarakat secara luas karena banyaknya pemahaman negative akibat banyaknya pengelolaan yang salah.
Koperasi yang mengajarkan kemandirian ekonomi semakin menanggung beban yang berat. Seolah tenggelam dalam lemahnya kesadaran masyarakat untuk berkoperasi, ditambah terjangan arus ekonomi kapitalis liberal serta modernisasi yang membutakan upaya kemandirian.
Memang banyak masalah yang mendera koperasi, namun kita harus bisa terus kreatif. Lihat masalah itu sebagai tantangan sekaligus peluang untuk terus tumbuh dan berkembang. Koperasi sama halnya dengan usaha lain, mengalami pasang surut.
Sebagian besar koperasi yang tidak berjalan atau bahkan mengalami kebangkrutan itu, diakibatkan karena mereka dihadapkan pada permasalahan sumber daya manusia (SDM) dan manajemen yang kurang professional.
Pengelolaan yang tidak professional sering memicu konflik diantara pengurus dan anggota. Menyebabkan hilangnya rasa saling percaya. Padahal, komitmen dan kepercayaan diantara anggota dan pengurus mutlak diperlukan sebagai modal dasar pembangunan koperasi dalam upaya memenuhi kesejahteraan anggotanya.
Selain masalah SDM dan manajemen, persoalan krusial yang dihadapi koperasi adalah pemodalan. Seharusnya pemerintah mengupayakan intermediasi koperasi dengan perbankan, mengupayakan koperasi ataupun UKM dapat skim dari perbankan, seperti jaminan kredit dengan kelayakan usaha. Tetapi skim kredit perbankan yang ada pada saat ini masih sulit diakses koperasi dan UKM. Padahal, bila didukung dan dikelola secara baik dan professional, koperasi mampu menunjukkan daya tahan dan eksistensinya disaat krisis ekonomi yang banyak menghancurkan perekonomian diberbagai negara.
Hal ini menunjukkan lembaga perbankan belum dapat mengakomodir kebutuhan permodalan seluruh pelaku usaha koperasi, kecil, maupun menengah. Pebankan menilai resiko pinjaman besar jika tanpa agunan. Hal seperti itu memberatkan dan sulit dipenuhi koperasi dan UKM. Persyaratan yang rumit itu yang menyebabkan banyak kegagalan dalam memperoleh permodalan.
Maju mundurnya koperasi juga ditentukan kejujuran, kreativitas, serta kemampuan membangun networking dari anggota dan pengurus. Masalah klasik seperti kemampuan sumber daya manusia (SDM), permodalan minim, manajemen dan pemasaran yang belum optimal, akan terus berlarut – larut atau mungkin semakin menenggelamkan keberadaan koperasi bila tidak ada komitmen semua pihak untuk menyelesaikan. Harus ada sinergi antar-state-holder mulai dari pemerintah, perbankan, koperasi, dan pihak lain untuk mengembangkan koperasi.
Kunci keberhasilan koperasi adalah kepercayaan dan kemandiran. Dengan menjunjung kepercayaan disertai dengan budi pekerti yang luhur, maka koperasi akan bangkit. Koperasi adalah kumpulan orang yang berusaha dengan dasar kemanusiaan bukan dari ekonomi kapitalis.
Kita perlu menyakini bahwa koperasi sebagai instrument kelembagaan masyarakat yang bisa mendorong kemandirian berusaha bagi setiap anggota dan masyarakat. Selain itu, melalui koperasi diharapkan aset – aset penting Negara bisa dikuasi oleh koperasi. Jangan sampai asset penting negara kita jatuh kepada pihak asing akibat penjajahan modern yang tengah menggerus negara ini.
Saya berharap pemimpin terpilih mampu menegakkan ekonomi kerakyatan yang berkeadilan dengan menghidupkan koperasi dan meningkatakan peranannya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai landasan pembangunan ekonomi nasional.
Read more...

Rabu, 09 Desember 2009

Apakah Koperasi Bisa Memberikan Kontribusi Yang Besar Pada Perekonomian Di Indonesia??

| | 0 komentar

Apakah Koperasi bisa memberikan kontibusi yang besar bagi Indonesia?? Menurut saya bisa, karena koperasi memegang peranan yang cukup penting bagi perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan karena koperasi merupakan sektor usaha yang memiliki jumlah terbesar dengan daya serap yang signifikan, khususnya didaerah – daerah.
Tetapi walaupun pertumbuhan koperasi di Indonesia terbilang cukup pesat, namun kontribusinya bagi pertumbuhan ekonomi belum terlalu signifikan. Ini dikarenakan koperasi cenderung masih berperan sebagai pemasok atau produsen, lebih dari itu sudah dikuasi oleh swasta dan BUMN. Masalah ini tidak terlepas dari azas koperasi yaitu kekeluargaan dan kegotongroyongan.Jadi koperasi dianggap kecil, tidak berperan, den merupakan kumpulan serba lemah, itu terjadi karena pola pikir yang menciptakan demikian.Singkatnya, Koperasi adalah untuk usaha kecil, sedangkan yang menengah bahkan besar untuk kalangan swasta dan BUMN. Padahal koperasi memiliki kedudukan dan potensi sejajar dengan pelaku ekonomi bisnis lainnya.
Memang, persaingan yang terjadi di lapangan demikian ketat. Tetapi hanya dengan kompetisi ketat semacam itulah yang membuat mereka bisa menjadi pengusaha besar yang tangguh dan profesional. Para pemain ini akan disaring secara alami, mana yang efesien dalam menjalankan bisnis dan mereka yang akan tetap eksis.
Di Indonesia , beberapa koperasi sebenaranya sudah bisa dikatakan memiliki unit usaha besar dan beragam serta tumbuh menjadi bisnis raksasa berskala besar yang tentunya tidak kalah jika dibandingkan dengan perusahaan swasta atau BUMN yang sudah menggurita, namun kini banyak yang sakit. Koperasi yang bersangkutan sudah merambah dan menangani berbagai bidang usaha yang menguasai hajat hidup orang banyak dan merengsek ke berbagai bidang usaha bisnis komersial.
Dapat dilihat peran serta koperasi sudah makin terlihat dalam pengembangan roda perekonomian di Indonesia. Dibanyak daerah, koperasi punya andil besar untuk mensejahterakan anggota maupun yang bukan anggota. Dalam peranan koperasi untuk memberikan kesejahteraan misalnya kontribusinya dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Hal ini tentu saja dapat meringankan beban pemerintah maupun swasta dalam menangani tenaga kerja yang jumlah makin meningkat dari tahun ke tahun.
Read more...